Mengapa Jatuh Cinta Bisa Memicu Rasa Takut dan Cemas?

Mengapa jatuh cinta bisa memicu rasa takut?
Kedekatan emosional dapat membangkitkan trauma masa lalu
Hubungan baru menuntut seseorang untuk terbuka dan menunjukkan sisi rentan dirinya. Bagi orang yang pernah mengalami pengkhianatan, pengabaian emosional, hubungan tidak konsisten, atau ditinggalkan, kedekatan tidak selalu terasa aman.
Meski pasangan baru bersikap baik dan stabil, tubuh dapat bereaksi seolah-olah sedang menghadapi bahaya. Rasa cemas pun muncul ketika hubungan mulai terasa semakin dekat.
“Tubuh mengingat pengalaman masa lalu jauh sebelum pikiran dapat memahaminya. Karena itu, pesan yang terlambat dibalas tiba-tiba terasa sangat sulit ditoleransi, atau sedikit jarak emosional dapat memicu serangan panik,” ujar Dr. Tugnait, seperti disadur Only My Health, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, ketakutan tersebut sering kali bukan sepenuhnya tentang pasangan yang ada di depan mata. Rasa takut bisa berkaitan dengan pengalaman masa lalu dan luka yang pernah dirasakan saat menjalin kedekatan.
Tubuh bisa bereaksi lebih cepat daripada pikiran
Trauma tidak hanya tersimpan sebagai ingatan. Ketika seseorang mulai jatuh cinta, sistem keterikatan emosional yang terbentuk sejak masa awal kehidupan dapat ikut aktif.
Jika sejak dulu cinta diasosiasikan dengan ketidakpastian atau rasa sakit, tubuh dapat segera memasang mode perlindungan.
Akibatnya, seseorang mungkin merasa gelisah, sangat waspada, atau kewalahan secara emosional tanpa memahami penyebabnya.
“Banyak orang keliru menganggap reaksi fisik yang panik sebagai intuisi atau firasat bahwa ada sesuatu yang salah. Padahal, intuisi sejati terasa tenang dan jelas, sedangkan trauma terasa mendesak, keras, dan digerakkan oleh rasa takut,” jelas Dr. Tugnait.
Karena itu, rasa tidak nyaman dalam hubungan baru perlu diamati dengan lebih hati-hati. Tidak semua kecemasan otomatis menjadi tanda bahwa pasangan tersebut tidak tepat.
Kekacauan emosional bisa disalahartikan sebagai chemistry
Bagi sebagian orang, hubungan yang penuh ketegangan justru terasa familiar. Intensitas emosi kemudian dianggap sebagai tanda cinta yang kuat, sementara kecemasan disalahartikan sebagai gairah atau chemistry.
Dr. Tugnait mengatakan, pola tersebut dapat terbentuk dari pengalaman emosional yang dipelajari sejak masa kanak-kanak.
“Ketika cinta baru tidak mengikuti kekacauan yang sudah familiar, hubungan itu bisa terasa tidak nyaman atau bahkan membosankan,” katanya.
Hubungan yang sehat dan stabil pun dapat terasa aneh karena tidak memicu respons bertahan hidup seperti sebelumnya.
Selain itu, seseorang yang pernah kehilangan dirinya dalam hubungan lama dapat takut mengalami hal serupa.
Ketakutan itu bisa terlihat dari sikap menjaga jarak, ragu, atau tiba-tiba menarik diri saat hubungan mulai serius.
Dengan memahami pola tersebut, seseorang dapat belajar membedakan kedamaian dari kebosanan serta memberi kesempatan pada hubungan yang lebih sehat.
Artikel Terkait

Masyarakat Tidak Mampu Bisa Dapat Layanan Hukum dengan Tarif Rp 0
Dalam penjelasan PP, pertimbangan tertentu tersebut antara lain mencakup kemanusiaan, kondisi kahar,2026-07-29
Bayi Baru Lahir Dibuang di Lahan Kosong Bekasi, Polisi Buru Pelaku
Bayi perempuan yang baru lahir ditemukan di lahan kosong dekat salah satu perumahan, Desa Lambang Ja2026-07-29
Hotman: Rumah Sentul Bukan Milik Febrie, Dikuasai Don Ritto Sejak 2022
Hotman Paris Hutapea menyatakan rumah di Sentul tempat polisi menemukan uang dan emas 74 kilogram bu2026-07-29
Ini Tips Memilih Ban SUV yang Tepat Sesuai Karakter Jalan di Indonesia
Tren pasar otomotif nasional, khususnya untuk segmen Sport Utility Vehicle (SUV) dan truk ringan, te2026-07-29
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Papua dinilai sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati terpenting di Indonesia dengan tin2026-07-29
Sorotan Kemlu Atas Aksi Pemuda Madiun Kabur Saat Tur di Korsel
Kaburnya seorang peserta tur asal Madiun bernama Femas saat mengikuti open trip Korea Selatan menja2026-07-29

Komentar Terbaru